Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
disingkat ICMI adalah sebuah organisasi cendekiawan muslim di Indonesia.Kelahiran
ICMI bukankah sebuah kebetulah sejarah belaka, tapi erat kaitannya dengan
perkembangan global dan regional di luar dan di dalam negeri. Menjelang akhir
dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ditandai dengan berakhirnya
perang dingin dan konflik ideologi.
Seiring dengan itu semangat kebangkitan Islam di
belahan dunia timur ditandai dengan tampilnya Islam sebagai ideologi peradaban dunia
dan kekuatan altenatif bagi perkembangan perabadan dunia. Bagi Barat,
kebangkitan Islam ini menjadi masalah yang serius karena itu berarti hegemoni
mereka terancam. Apa yang diproyeksikan sebagai konflik antar peradaban lahir
dari perasaan Barat yang subyektif terhadap Islam sebagai kekuatan peradaban
dunia yang sedang bangkit kembali sehingga mengancam dominasi peradaban Barat.
Kebangkitan umat Islam ditunjang dengan adanya ledakan kaum terdidik
(intelectual booming) yang di kalangan kelas menengah kaum santri Indonesia.
Program dan kebijakan Orde Baru secara langsung maupun tidak langsung telah
melahirkan generasi baru kaum santri yang terpelajar, modern, berwawasan
kosmopolitan, berbudaya kelas menengah, serta mendapat tempat pada
institusi-institusi modern. Pada akhirnya kaum santri dapat masuk ke jajaran
birokrasi pemerintahan yang mulanya didominasi oleh kaum abangan dan di
beberapa tempat oleh non muslim. Posisi demikian jelas berpengaruh terhadap
produk-produk kebijakan pemerintah.
Dengan kondisi yang membaik ini, maka pada dasa
warsa 80-an mitos bahwa umat Islam Indonesia merupakan mayoritas tetapi
secara teknikal minoritas runtuh dengan sendirinya. Sementara itu, pendidikan
berbangsa dan bernegara yang diterima kaum santri di luar dan di dalam kampus
telah mematangkan mereka buka saja secara mental, tapi juga secara intelektual.
Dari mereka itulah lahir critical mass yang responsif terhadap dinamika dan
proses pembangunan yang sedang dijalankan dan juga telah memperkuat tradisi
inteletual melalui pergumulan ide dan gagasan yang diekpresikan baik melalui
forum seminar maupun tulisan di media cetak dan buku-buku. Seiring dengan itu
juga terjadi perkembangan dan perubahan iklim politik yang makin kondusif bagi
tumbuhnya saling pengertian antara umat Islam dengan komponen bangsa lainnya,
termasuk yang berada di dalam birokrasi.
ICMI dibentuk pada tanggal 7 Desember 1990 di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang
tanggal 6-8 Desember 1990. Di pertemuan itu juga dipilih
Baharuddin Jusuf Habibie sebagai
ketua ICMI yang pertama.
Kelahiran ICMI berawal dari diskusi kecil di
bulan Februari 1990 di masjid kampus Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang.
Sekelompok mahasiswa merasa prihatin dengan kondiri umat Islam, terutama
kadena berserakannya keadaan cendekiawan muslim, sehingga menimbulkan
polarisasi kepemimpinan di kalangan umat Islam. Masing-masing kelompok sibuk
dengan kelompoknya sendiri, serta berjuang secara parsial sesuai dengan aliran
dan profesi masing-masing.
Dari forum itu kemudian muncul gagasan untuk mengadakan
simposium dengan tema. Sumbangan Cendekiawan Muslim Menuju Era Tinggal Landas yang direncanakan akan dilaksanakan pada
tanggal 29 September s/d 1 Oktober 1990. Mahasiswa Unibraw yang
terdiri dari Erik Salman, Ali Mudakir,
M. Zaenuri, Awang Surya dan M. Iqbal berkeliling menemui para pembicara, di
antaranya Immaduddin Abdurrahim dan M.
Dawam Rahardjo. Dari hasil
pertemuan tersebut pemikiran mereka terus berkembang sampai muncul ide untuk
membentuk wadah cendekiawan muslim yang berlingkup nasional. Kemudian para
mahasiswa tersebut dengan diantar Imaduddin
Abdurrahim, M. Dawam Rahardjo dan Syafi?i Anwar menghadap Menristek Prof. B.J.
Habibie dan meminta beliau untuk memimpin wadah cendekiawan muslim dalam
lingkup nasional. Waktu itu B.J. Habibie menjawab, sebagai pribadi
beliau bersedia tapi sebagai menteri harus meminta izin dari Presiden Soeharto. Beliau juga meminta
agar pencalonannya dinyatakan secara resmi melalui surat dan diperkuat dengan
dukungan secara tertulis dari kalangan cendekiawan muslim. Sebanyak 49 orang
cendekiawan muslim menyetujui pencalonan B.J.
Habibie untuk memimpin wadah cendekiawan muslim tersebut.
Pada tanggal 27 September 1990, dalam sebuah
pertemuan di rumahnya, B.J. Habibie memberitahukan bahwa usulan sebagai
pimpinan wadah cendekiawan muslim itu disetujui Presiden Soeharto. Beliau juga
mengusulkan agar wadah cendekiawan muslim itu diberi nama Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia
disingkat ICMI.
Demikianlah
sedikit tentang pembahasan mengenai awal diadakannya ICMI. Kemudian inilah
salah satu cendekiawan muslim yang akan dibahas pada postingan kali ini. Mohon
di simak.
Thariq bin Ziyad
Thariq bin Ziyad (670 s/d 720) (Bahasa Arab: طارق بن زياد), dikenal dalam
sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric
el Tuerto (Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jendral
dari dinasti Umayyah yang
memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra,
Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.
Musim panas tahun 711 M (92 H), Thariq bin Ziyad
berangkat menuju Al-Andalus. Pada
tanggal 29 April 711, pasukan Thariq mendarat di Gibraltar (nama Gibraltar berasal dari
bahasa Arab, Jabal Tariq yang artinya Gunung Thariq). Setelah
pendaratan, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal dan berpidato di depan
anak buahnya untuk membangkitkan semangat mereka:
أيّها الناس، أين المفر؟ البحر من
ورائكم، والعدوّ أمامكم، وليس لكم والله إلا الصدق والصبر...
Tidak ada jalan untuk melarikan
diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada
yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan
dan kesabaran.
Pasukan Tariq menyerbu wilayah Andalusia dan di
musim panas tahun 711 berhasil meraih kemenangan yang menentukan atas kerajaan Visigoth, di mana rajanya, Roderick terbunuh pada tanggal 19 Juli
711 dalam pertempuran Guadalete. Setelah itu, Thariq menjadi gubernur wilayah
Andalusia sebelum
akhirnya dipanggil pulang ke Damaskus oleh Khalifah Walid I.
Asal-Usul Thariq bin Ziyad
Asal-usul Thariq tidak diketahui secara pasti.
Menurut sejarawan Syauqi Abu Khalil dan dikutip oleh Alwi Alatas, ada yang menyebutnya sebagai
keturunan dari Bani Hamdan dari Persia, atau
dari suku Lahm. Ada juga yang menyebutkan Thariq berasal dari
bangsa Vandals. Namun, banyak sejarawan yang
menganggap dia keturunan dari bangsa Berber. Menurut Alwi Alatas, Thariq
berasal dari keluarga muslim dan sejak kecil telah dididik secara Islam oleh
ayahnya pada masa kekuasaan Uqbah bin Nafi di Ifriqiya.
Menurut pendapat lain, Thariq bin Ziyad adalah
bekas budak Musa bin Nusayr. Musa membebaskannya setelah
melihat potensi Thariq, kemudian menempatkannya di pasukannya. Bisa jadi Thariq
bin Ziyad sudah berada di pasukan Musa bin Nusayr saat Musa baru tiba di Qayrawan. Namun, saat itu Thariq belum
dikenal dengan luas.
Beberapa sejarawan mencatat bahwa Thariq memiliki
beberapa versi nama:
- Al-Idrisi, geografer Muslim dari abad ke-12, menyebut nama Thariq dengan Thariq bin Abdullah bin Wanamu al-Zanati
- Ibnu Idhari menyebut nama lengkap Thariq adalah Thāriq bin Zīyād bin Abdullah bin Walghū bin Warfajūm bin Nabarghāsan bin Walhāṣ bin Yaṭūfat bin Nafzāw
- Ibnu Idhari juga menyebut nama lengkapnya dengan Tāriq bin Zīyād bin Abdullah bin Rafhū bin Warfajūm bin Yanzghāsan bin Walhāṣ bin Yaṭūfat bin Nafzāw
Ciri-Ciri Thariq
Thariq adalah lelaki dengan kening yang menonjol
dan memiliki tahi lalat hitam yang ditumbuhi rambut pada pundak kirinya.
Legenda Kedatangan Thariq
Setidaknya ada dua legenda tentang kedatangan
Thariq bin ZIyad ke Al-Andalus. Legenda
itu sebagai berikut:
Legenda Wanita Tua
Saat Thariq baru membebaskan Kota Algeciras, ada
seorang wanita tua yang meminta untuk bertemu Thariq. Setelah diizinkan oleh
Thariq, wanita tua ini menuturknan kisahnya bahwa ia dulu memiliki seorang
suami. Suaminya selalu mengatakan bahwa suatu hari nanti, negeri ini akan
ditaklukkan oleh seorang jenderal asing. Jenderal ini memiliki kening yang
menonjol dan tahi lalat hitam yang ditumbuhi rambut pada pundak kirinya.
Mendengar itu, Thariq segera membuka pundak bagian kirinya yang ternyata memang
memiliki tanda yang sama seperti yang dituturkan wanita tersebut. Pasukan
Thariq pun kagum
Legenda Istana 27 Gembok
Kerajaan Visigoth memiliki satu istana yang sangat
indah di Toledo dan
memiliki 27 gembok. Raja-raja sebelumnya selalu berpesan bahwa apapun yang
terjadi, istana itu tidak boleh dimasuki satu orang pun. Setiap raja yang baru
bahkan menambahkan satu gembok sehingga ada 27 gembok. Saat Roderick naik tahta, ia sangat penasaran
dengan isi istana itu. Pada suatu hari, ia membongkar semua gembok yang ada dan
memasuki istana itu. Ternyata, di dalam istana itu terdapat sebuah ruangan lagi
yang dikunci. Setelah membongkar kunci ruangan itu, Roderick kembali memasuki
ruangan yang lebih dalam lagi.
Ternyata di dalam ruangan itu ada sebuah perkamen
yang berisi lukisan orang-orang yang sedang menunggang kuda. Mereka memakai
baju yang kasar, penuh debu, memakai sorban di kepalanya, dan pedang mereka
melengkung. Di sana juga terdapat sebuah tulisan,
"Kapan pun ruang perlindungan ini dilanggar
dan mantra yang terdapat pada guci ini dilanggar, orang-orang yang terlukis
pada guci ini akan menyerbu Andalusia, menggulingkan singgasana rajanya, serta
menduduki seluruh negeri"
Roderick ketakutan setelah membaca itu
dan meyakini bahwa bencana akan menimpa dirinya.
Persiapan Pembebasan Al-Andalus
Kisah Julian dan Putrinya
Julian adalah penguasa Ceuta. Dia menandatangani perjanjian
damai dengan Kekhalifahan melalui Musa bin Nusayr. Julian memiliki seorang putri
sangat cantik yang bernama Florinda. Demi hubungan yang baik dengan Visigoth, Florinda dikirim ke istana Roderick untuk belajar. Roderick tertarik
dan ingin menikahi Florinda, tetapi Florinda menolaknya. Roderick yang marah
kemudian menghamili Florinda dan mengancamnya agar ia tak memberitahu
siapa-siapa kejadian tersebut. Namun, berkat kecerdasannya, Florinda berhasil
menyelundupkan sebuah surat ke luar istana Roderick dan mengirimnya ke Julian, ayahnya, memberitahu apa yang
terjadi.
Julian sangat marah dan bersumpah untuk menghancurkan
Roderick. Ia segera menuju istana Roderick untuk mengambil Florinda. Julian
mengarang cerita bahwa istrinya sedang sakit keras dan berharap Florinda ada di
samping ibunya untuk menjaganya. Mendengar itu, Roderick pun mempersilakan
Florinda pulang bersama ayahnya. Setelah berhasil mengamankan Florinda di
istana Ceuta, Julian menuju kediaman Musa bin Nusayr, memintanya untuk menyerang
Visigoth.
Awalnya, Musa menolaknya karena saat itu Semenanjung Iberia belum dikenal di kalangan kaum muslimin. Namun, Julian terus
mendesaknya. Akhirnya, Musa meminta Julian untuk menyerang Semenanjung Iberia
dengan pasukan kecil untuk menunjukkan keseriusannya. Julian melaksanakan
perintah itu. Ia membawa dua kapal dan menyerang Algeciras. Keesokannya, ia
berhasil pulang dan menunjukkan harta rampasan perang kepada Musa bin Nusayr
dalam jumlah yang banyak. Musa pun mempercayai Julian.
Mengirim Surat Kepada Khalifah
Musa segera bergerak cepat dengan mengirimkan surat
kepada khalifah Al-Walid di Damaskus, meminta izin untuk membebaskan
Semenanjung Iberia. Jawaban dari Al-Walid pun datang,
"Hendaknya kirim dulu pasukan kecil ke negeri
itu sehingga mereka bisa menyerangnya dan membawa berita kepadamu tentang apa-apa
yang terdapat di negeri tersebut. Hati-hatilah! Jangan sampai kaum muslimin
musnah oleh teror dan bahaya lautan."
Musa bin Nusayr mengirim balasannya,
"Ini bukan lautan, tetapi hanya terusan
sempit. Pantainya terlihat di kejauhan."
Al-Walid kembali membalas suratnya,
"Tidak apa-apa. Tetaplah kirim pasukan
pendahuluan ke sana!"
Pasukan Ekspedisi
Setelah mendapatkan izin dari khalifah, Musa bin
Nusayr mengirim pasukan ekspedisi awal ke wilayah Semenanjung Iberia. Pasukan
ini dipimpin oleh Tarif bin Malik (Tarif Abu Zar'ah bin Malik
Al-Mughaferi). Tarif bin Malik memimpin 500 tentara yang di dalamnya ada 100
penunggang kuda. Tarif berangkat dengan menggunakan empat buah kapal. Mereka
mendarat di pulau paling selatan Semenanjung Iberia. Kelak, pulau ini akan dinamakan kota Tarifa yang berasal dari nama Tarif bin
Malik.
Tarif segera melaksanakan perintah Musa bin Nusayr untuk menyerang daerah terdekat
dari tempatnya berlabuh. Setelah berhasil, Tarif kembali ke Musa bin Nusayr dan
membawakan harta rampasan perang yang banyak. Ia juga menyebut negeri itu
dengan sebutan Jazirat al-Khadra (pulau yang hijau) untuk
menyebut Semenanjung Iberia.
Pembebasan Dimulai
Pasukan Berangkat
Musa bin Nusayr menunjuk Thariq bin Ziyad untuk
memimpin pembebasan ini. Thariq membawa 12.000 pasukan yang mayoritasnya adalah
bangsa Berber. Hanya 300 orang dari bangsa Arab dan 700 orang dari bangsa
Afrika. Julian dari Ceute bertugas sebagai intel
dan penunjuk jalan pasukan. Para pasukan pun berangkat dari Ceuta menggunakan
kapal Julian untuk menyamar. Pengangkutan pasukan dilakukan secara bolak-balik
pada malam hari supaya tidak mencurigakan.
Sesaat sebelum berlabuh, Thariq memutuskan untuk
tidur sebentar. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad yang
dikelilingi orang-orang Muhajirin dan Anshar. Mereka membawa pedang yang
terhunus. Lalu, Nabi Muhammad bersabda
kepada Thariq:
"Janganlah gentar, wahai Thariq. Sempurnakan
apa yang ditakdirkan bagimu untuk melakukannya!"
Kemudian Thariq terbangun dan merasa yakin
kemenangan ada di pihaknya. Ia memberitahukan mimpi ini kepada
prajurit-prajurit muslim yang ada di kapal bersamanya.
Awalnya Thariq ingin mendarat di Algeciras tetapi tidak jadi karena kota
itu dijaga oleh pasukan Visigoth. Akhirnya, Thariq dan pasukannya mendarat di Calpe, arah timur Algeciras. Kelak, Calpe diubah namanya
menjadi Jabal Al-Fatah (Gunung Kemenangan). Namun,
tempat itu lebih dikenal dengan nama Jabal Tariq atau Gibraltar.
Jenderal Perang
Thariq membawa jenderal-jenderal perang tangguh,
yakni:
- Tarif bin Malik
- Mughyet ar-Rumi. Dia adalah seorang mualaf dari Yunani dan berkebangsaan Romawi (Eropa)
- Abdul Malik al-Moafir
- Kaula al-Yahudi (bergabung belakangan)
Pembakaran kapal
Menurut sejarah barat, kemenangan pasukan muslim
dalam penaklukan Andalusia banyak dipengaruhi oleh semangat juang yang berhasil
dikobarkan oleh Thariq dimana dia memerintahkan untuk membakar semua kapal
sehingga tidak ada jalan untuk melarikan diri selain bertempur habis-habisan
melawan musuh sampai meraih kemenangan atau mati sebagai syuhada. Thariq bin Ziyad merupakan
sosok pahlawan yang mampu membawa kejayaan Islam di masanya.
Pidato Thariq bin Ziyad
Menurut P. De Gayangos, sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Thomson, berikut ini adalah pidato yang
disampaikan Thariq bin Ziyad kepada para prajuritnya:
"Ke manakah kalian dapat melarikan diri
sementara musuh berada di depan dan lautan berada di belakang kalian? Demi
Allah! Tak ada keselamatan bagi kalian kecuali dalam keberanian dan keteguhan
hati kalian. Pertimbangkanlah situasi kalian: kalian berdiri di atas pulau ini
bagaikan begitu banyak anak-anak yatim terlontar ke dunia; kalian akan segera
bertemu dengan musuh yang kuat mengepung kalian dari segala penjuru bagaikan
gelombang kemarahan samudera yang bergejolak, dan mengirimkan prajurit-prajurit
yang tak terhitung banyaknya pada kalian, bala tentara baju besi dan dilengkapi
dengan segala senjata yang pernah ada.
Apa yang dapat kalian gunakan untuk melawan mereka?
Kalian tak memiliki senjata lain kecuali pedang,
tak punya perlengkapan lain kecuali yang telah kalian rampas dari musuh kalian.
Oleh karena itu, kalian harus menyerang mereka dengan segera atau jika tidak,
maka hasrat kalian untuk menyerah akan tumbuh, angin kemenangan takkan lagi
berhembus di pihak kalian, dan barangkali rasa gentar yang bersembunyi di hati
musuh-musuh kalian akan berganti menjadi keberanian yang sukar dikekang!
Buanglah segala ketakutan dari hati kalian,
percayalah kemenangan akan menjadi milik kita dan percayalah bahwa raja kafir
itu tak akan mampu bertahan menghadapi serangkan kita. Ia telah datang untuk
menjadikan kita tuan dari kota-kota dan kastil-kastil yang dikuasainya, serta
menyerahkan pada kita harta karunnya yang tak terhitung banyaknya. Dan jika
kalian menangkap peluang yang kini tersedia, maka itu bisa menjadi cara bagi
kalian untuk memiliki semua itu, di samping akan menyelamatkan diri kalian dari
kematian yang tak terelakkan.
Janganlah berpikir bahwa aku membebankan tugas
kepada kalian sementara aku sendiri akan lari menghindar, atau aku
menutup-nutupi bahaya yang ada dalam mengemban ekspedisi ini. Tidak! Kalian
memang akan menghadapi datangnya masalah besar, tetapi juga kalian mengetahui
bahwa kalian hanya akan menderita sebentar saja. Di akhir pertempuran ini
kalian akan memungkuti panenan kebahagiaan dan kesenangan yang melimpah-limpah.
Dan jangan bayangkan bahwa sementara aku berkata ini pada kalian, aku berniat
untuk tidak melakukannya, sebab hasratku dalam pertempuran ini jauh melebihi
hasrat kalian. Apa yang akan aku lakukan melebihi apa yang akan kalian lakukan.
Kalian pastilah telah mendengar keunggulan yang melimpah ruah dari pulau ini,
kalian pastilah telah mendengar bagaimana para perawan Yunani, sama rupawannya
dengan bidadari, leher mereka berkilau dengan mutiara dan permata tak terbilang
banyaknya, tubuh mereka mengenakan tunik terbuat dari sutera-sutera mahal
bertabur emas, mereka menunggu kedatangan kalian. Mereka bersandar di atas
dipan-dipan empuk di dalam istana-istana mewah para bangsawan dan pangeran
bermahkota.
Kalian mengetahui benar bahwa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik telah memilih kalian seperti
begitu banyak pahlawan lain dari kalangan para pemberani. Kalian tahu bahwa
bangsawan-bangsawan besar tanah ini memiliki hasrat besar untuk menjadikan
kalian anak mereka dan mengikat kalian dengan pernikahan, hanya jika kalian
menyambut peperangan sebagaimana layaknya orang-orang berani dan pejuang
sejati, serta menjadi ksatria yang berani.Kalian mengetahui bahwa rahmat Allah
menantikan kalian jika kalian bersiap untuk menegakkan kalimat-Nya dan
memproklamirkan dien-Nya di tanah ini.
Dan yang terakhir, tentu saja barang rampasan akan
menjadi milik kalian dan kaum Muslim lainnya. Ingatlah baik-baik bahwa Allah
Yang Mahaperkasa akan memilih sesuai janji ini yang terbaik di tengah kalian
dan menganugerahinya pahala, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Dan
ketahuilah aku akan berbuat demikian juga. Aku akan menjadi orang pertama yang
akan memberi contoh pada kalian dan melakukan apa yang aku anjurkan pada
kalian. Sebab inilah tujuanku, saat pertemuan dua pasukan ini, untuk menyerang
raja Kristen yang lalim itu, Roderic, dan membunuhnya tanganku
sendiri! insya Allah.
Saat kalian melihatku berkelahi mati-matian
melawannya, seranglah musuh bersamaku. Jika aku membunuhnya, kemenangan menjadi
milik kita. Jika aku terbunuh sebelum mendekatinya, jangan kalian bersusah
payah karena aku, tetaplah bertempur seolah aku masih hidup dan berada di
tengah kalian, dan ikuti tujuanku, sebab saat mereka melihat rajanya jatuh,
pastilah kaum kafir ini akan kocar-kacir. Akan tetapi, jika aku terbunuh
setelah menewaskan raja mereka itu, tunjuklah seseorang di antara kalian yang
di dalam dirinya terdapat perpaduan antara keberanian dan pengalaman, serta
mampu memimpin kalian dalam situasi genting ini, dan menindaklanjuti
keberhasilan kita.
Jika kalian melaksanakan intruksi-intruksiku,
niscaya kita akan menang!"
Syair Thariq bin Ziyad
Menurut Alwi Alatas, Thariq juga mengumandangkan
sebuah syair untuk menyemangati pasukannya:
Kita telah mengendarai kapal yang kita
persiapkan untuk penyeberangan kita
Dan Allah hendak membeli jiwa, harta,
Dan keluarga kita dengan surga
Sungguh benar bahwa tak ada
Yang begitu kita harapkan di dunia ini
Sebagaimana juga tak penting bagi kita
Bagaimana menjumpai ajal saat memperoleh
Harga yang sedemikian didambakan"
Pembebasan Al-Andalus Tahap
Pertama
Catatan: banyak pendapat mengenai urutan pembebasan
kota demi kota yang dilakukan Thariq, Musa, dan pasukannya. Urutan pembebasan
dalam artikel ini hanyalah satu versi di antara banyak versi lain.
Pembebasan Kota Cartagena
Kota pertama yang dibebaskan Thariq adalah Cartagena. Kota
itu tidak jauh dari Gibraltar. Thariq mengirim pasukan yang
dipimpin oleh Abdul Malik al-Moafir. Setelah berhasil dibebaskan,
nama kota itu sempat diganti menjadi Qartayannat al-Halfa
Pembebasan Kota Algeciras
Kota selanjutnya yang dibebaskan Thariq adalah Algeciras. Abdul Malik al-Moafir ditugaskan oleh Thariq menjadi
pengawas kota ini sementara Thariq melanjutkan pembebasannya ke kota-kota lain.
Pertempuran dengan Theodomir
Theodomir (Arab: Tudmir) adalah
penjaga kerajaan Visigoth bagian
selatan. Pasukannya menghadang Thariq dan mereka bertempur dengan hebat.
Pasukan Theodomir kalah, kemudian ia mengirim surat kepada Roderick yang menuturkan bahwa Visigoth telah diserang. Namun, Theodomir
sendiri selamat dan kelak ia akan berhadapan dengan pasukan kaum muslimin untuk
kedua kalinya.
Pertempuran Guadalete
Setelah membaca surat dari Theodomir, Roderick yang saat itu sedang berperang
dengan Basque segera menghentikan perangnya
dan menuju Kordoba. Di sana Roderick menyusun
kekuatan untuk menghadang Thariq. Dia meminta bantuan dari Witiza, para gubernurnya, dan
budak-budak yang ia miliki sehingga ia berhasil mengumpulkan 40.000-100.000
prajurit. Sementara itu, pasukan Thariq
berjumlah 7.000-12.000 prajurit untuk melawan Roderick. Setelah melalui pertempuran
yang sengit, Roderick kalah dan terbunuh. Pertempuran ini dikenal dengan
sebutan Pertempuran Guadalete, pertempuran Guadalquivir, atau pertempuran Wadi Lakka. Pelayo adalah
seorang bangsawan Visigoth yang berhasil lolos dari pertempuran Guadalete. Kelak ia bersembunyi di pegunungan, menyusun
kekuatan untuk merebut Al-Andalus kembali, dan berhasil melakukannya 800 tahun
kemudian.
Pembebasan Kota Sidonia
Musa bin Nusayr mengirim surat kepada Thariq,
memintanya untuk menunda pembebasan. Ia ingin pergi ke Semenanjung Iberia dan terlibat langsung dalam pembebasan. Namun, Thariq memiliki
pertimbangan lain. Jika pembebasan ditunda, diperkirakan Visigoth akan berhasil membangun
kekuatannya kembali. Oleh karena itulah, setelah pertempuran Guadalete selesai, Thariq melanjutkan pembebasannya terhadap
kota-kota lain. Salah satunya adalah Sidonia. Di zaman Spanyol modern, kota
ini dikenal dengan nama kota Medina-Sidonia. Pembebasan kota ini dibantu
oleh orang Yahudi yang sebelumnya ditindas oleh Visigoth. Mereka berlarian membuka pintu
gerbang kota untuk menyambut pasukan Thariq bin Ziyad.
Pembebasan Kota Moron
Setelah pembebasan Sidonia, Thariq melanjutkannya ke kota Moron. Sama seperti Sidonia, pembebasan Moron pun dibantu
oleh orang Yahudi. Kemudian, Thariq menyerahkan
kepemimpinan kota sementara kepada orang-orang Yahudi sementara ia melanjutkan
pembebasan. Pada zaman kuno, kota ini
bernama Mawror. Di zaman modern, kota Moron
berganti nama menjadi Moron de la Frontera.
Pembebasan Kota Carmona
Pembebasan Kota Alcalá de
Guadaíra
Setelah Carmona berhasil dibuka, Thariq dan
pasukannya melaju ke Kota Alcala de Guadaira. Ia juga dapat mengalahkan kota
ini dengan mudah.
Pembebasan Kota Guadalajara
Thariq menuju kota Guadalajara dan berhasil
menembus kota tersebut.
Pembebasan Kota Ecija
Selanjutnya, Thariq membebaskan kota Ecija. Pasukan Thariq berhasil
menangkap gubernur Ecija dan menawarkan sebuah kesepakatan damai.
Kesepakatannya adalah gubernur harus menyerahkan Ecija dan menyerahkan pajak secara
rutin. Sebagai imbalannya, ia akan tetap dibiarkan memerintah Ecija.
Pembebasan Kota Kordoba
Thariq mengirim Mughyet ar-Rumi dan 700 pasukan berkuda untuk
membebaskan Kordoba.
Ternyata, Kordoba dipertahankan oleh 400 tentara yang sangat kuat dan memiliki
pasokan air yang banyak. Dengan pertempuran sengit, Mughyet berhasil menembus
benteng kota dan merebut seluruh kota. Seluruh pasukan Kordoba yang tersisa
berlindung ke sebuah gereja di barat kota dengan pasokan air tak terbatas yang
mengalir dari gunung. Setelah mengepung pasukan Kordoba selama 3 bulan, Mughyet
mengutus Rabah, seorang dari bangsa Afrika,
untuk menyusup ke gereja. Para prajurit Kordoba menangkap Rabah dan bingung
mengapa kulitnya hitam, tidak seperti mereka yang putih. Rabah berhasil
meloloskan diri dengan sebuah siasat dan memberitahu posisi pasokan air.
Mughyet segera memerintahkan untuk memutus pasokan air tersebut. Pasukan
Kordoba yang tidak mampu bertahan dari kehausan akhirnya melakukan bunuh diri
massal dengan membakar gereja tempat mereka berlindung. Akhirnya, Mughyet
berhasil membebaskan Kordoba dengan
susah payah.
Pembebasan Kota Almunecar
Pasukan Thariq kemudian menuju Kota Almunecar. Ia tidak menemui kesulitan
berarti dalam membuka Almunecar.
Pembebasan Kota Toledo
Thariq dan pasukannya yang lain berangkat menuju Toledo, ibukota Visigoth. Ternyata, Toledo telah kosong
ditinggalkan penduduknya. Thariq meninggalkan sedikit pasukannya untuk menjaga Toledo sementara ia melanjutkan
pembebasan.
Pembebasan Kota Medinat Al-Maida
Thariq melanjutkan perjalanannya menuju kota Medinat Al-Maida (Kota Meja), yakni kota kecil di
dekat Toledo. Medinat Al-Maida adalah nama pemberian kaum
Muslimin Al-Andalus, sementara nama asli kota ini tidak diketahui. Di kota ini Thariq dan
pasukannya menemukan harta rampasan perang yang banyak sekali. Mereka kemudian
membawa dan mengumpulkannya bersama harta rampasan perang lain di Toledo. Berikut adalah harta-harta yang
ditemukan Thariq:
- Meja Sulaiman. Ini adalah meja milik Nabi Sulaiman bin Daud yang konon dicuri dari istananya dan dibawa ke Spanyol
- Kitab-kitab kuno Injil, Taurat, dan Zabur berjumlah 21 salinan
- Sebuah kitab kuno tentang Nabi Ibrahim
- Sebuah kitab kuno tentang Nabi Musa
- Kitab-kitab kuno ilmu pengetahuan alam, yakni tentang obat-obatan, binatang, dan lainnya
- Mahkota-mahkota bertaburan emas dan permata milik raja Visigoth berjumlah 27
- Kitab-kitab kuno para filsuf
- Perhiasan dan karya seni yang begitu bagus
Perselisihan Thariq dengan Tokoh
yang Lain
Perselisihan Thariq-Musa
Kasus Pembebasan Al-Andalus
Setelah pertempuran Guadalete, Musa mengirim surat kepada Thariq, memintanya
untuk menunda pembebasan sampai ia tiba ke Al-Andalus. Namun, kali ini Thariq tidak
menaati Musa. Pertimbangan Thariq adalah jika ia menunda pembebasan, maka Visigoth akan berhasil menyusun kekuatan
dan menyerang balik pasukan Thariq. Oleh karena itulah, Thariq tetap
melanjutkan pembebasan.
Saat Musa bertemu Thariq di Toledo, Musa masih
ingat persoalan tersebut dan menjadi sangat marah. Ia memecut Thariq di depan
pasukannya sendiri dan menjebloskannya ke penjara. Namun, Musa segera menyadari
bahwa perilakunya ke Thariq sangat berlebihan. Akhirnya, Thariq dibebaskan dan
diangkat kembali menjadi pemimpin pasukan. Kemudian, mereka berdua melanjutkan
pembebasan terhadap Al-Andalus.
Kasus Meja Sulaiman
Thariq menemukan Meja Sulaiman di kota Medinat Al-Maida. Namun, Musa meminta Thariq
untuk menyerahkan Meja Sulaiman dan seluruh harta rampasan
perang kepadanya. Thariq pun memotong salah satu kaki meja dan
menyembunyikannya. Saat Musa bertanya soal kaki meja yang hilang, Thariq
berkata saat ditemukan memang sudah seperti itu. Musa pun mengklaim ke Al-Walid bahwa ia yang menemukan Meja Sulaiman dan harta
rampasan yang lain.
Ketika Musa dan Thariq dipanggil ke Damaskus untuk menyerahkan harta
rampasan, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (Al-Walid sudah meninggal
sebelum sidang kasus Meja Sulaiman dilangsungkan) bertanya mengapa kaki Meja
Sulaiman terpotong. Musa berkata memang sudah terpotong seperti itu saat ia
temukan. Saat itulah Thariq mengeluarkan kaki meja yang sebelummnya telah ia
potong. Ini menunjukkan bahwa Thariq-lah sebenarnya yang menemukan Meja Sulaiman. Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik pun marah dan menghukum Musa.
Perselisihan Thariq-Rughyet
Menurut Alwi Alatas, Thariq sempat berselisih dengan
Rughyet. Saat Thariq telah kembali ke Damaskus, khalifah Sulaiman bin Abdul Malik memanggil Rughyet untuk meminta
pendapatnya bagaimana kalau ia melanjutkan pengangkatan Thariq menjadi gubernur
Al-Andalus.
Rughyet menolaknya dan mengatakan bahwa itu terlalu
berbahaya, sebab
"Andaikata Thariq meminta rakyat Al-Andalus untuk shalat tidak menghadap
Ka'bah, tentulah mereka akan mematuhinya", kata Rughyet.
Rughyet menggambarkan bahwa rakyat Al-Andalus sangat taat terhadap Thariq dan
itu bisa membahayakan kedudukan khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Akhirnya, Sulaiman tidak jadi
mengangkat Thariq kembali menjadi gubernur Al-Andalus.
Saat Thariq mendengar hal ini, ia menemui Rughyet
dan menanyakan alasannya mengapa ia berkata seperti itu. Rughyet mengatakan ia
membalasnya karena Thariq pernah merampas tawanan milik Rughyet.
"Jika kamu membiarkanku bersama tawananku dan
tidak merebutnya, aku akan membiarkan Al-Andalus ada di tanganmu", kata
Rughyet.
Tahun-Tahun Akhir Thariq bin
Ziyad
Setelah beberapa saat menjadi gubernur Al-Andalus, Thariq bin Ziyad dipanggil
kembali oleh khalifah Al-Walid ke Damaskus. Ia berangkat bersama Musa bin
Nusayr pada September 714 M. Tahun-tahun akhir hidup Thariq
bin Ziyad masih penuh misteri dan belum diketahui. Ia wafat tahun 720 M di Damaskus.
Quotes tentang Thariq bin Ziyad
- "Thariq adalah orang yang pemberani, gagah, lebih mencintai pertempuran dibandingkan harta benda" (Henry Coppee)
- "Dia (Thariq bin Ziyad) pasti tidak terlalu tua, seorang penunggang kuda yang amat cekatan, dan hampir pasti terlahir sebagai seorang pemimpin" (David Levering Lewis)
- "Seperti (Julius) Caesar, Thariq adalah seorang petaruh yang mampu mengilhami tentaranya untuk mati berjuang dengan penuh pengabdian melawan rintangan yang menakutkan" (David Levering Lewis)
Quotes tentang Pembebasan
Al-Andalus
- "Pada malam kedatangan Islam di benua Eropa, peradaban Eropa hanya -dan memang, tak lebih dari- sebuah kemungkinan...Yang memberi janji kebangkitan kembali Eropa justru adalah peradaban baru umat Islam yang hendak ditransfer oleh Thariq bin Ziyad dan beberapa ribu prajurit Berbernya dari Afrika Utara ke Hispania" (David Levering Lewis)
- "Saat cahaya kebenaran menyinari Spanyol, realitas otentik negeri ini terungkap dalam alur yang paling terang" (Americo Castro)
- "Mereka (Visigoth) segera digantikan oleh 'Elang-Elang Arab dan Afrika' yang tidak hanya merebut Semenanjung Iberia dari tangan bangsa Visigoth, tetapi juga mengukir salah satu mozaik terindah dalam peradaban dunia" Alwi Alatas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar